Kamis, 05 April 2012

Tugas Softskill

Present
  1. He goes to school everyday
  2. They play badminton every week
  3. She practices english everyday
  4. I go to church every sunday
  5. My parents visit my grandmother's house every month
  6. I meet my girlfriends every monday
  7. I play football twice a week
  8. Ana and Ani are beautiful
  9. My best friend and I go fishing every week
  10. I eat my dinner every night

Continues
  1. She is playing guitar now
  2. I'm eating my breakfast right now
  3. They're swimming now
  4. My sister is doing her homework now
  5. My dog is running in the yard right now
  6. He is watching movie now
  7. I'm baking a cake right now
  8. My teacher is teaching mathematics now
  9. Lina is buying me some food now
  10. My daddy is washing his car right now

Future

  1. I will go to Puncak tomorrow
  2. They will buy a new house next year
  3. She will meet her boyfriend next month
  4. I will eat my dinner tonight
  5. We will have an exam tomorrow
  6. My brother will borrow me his novel next tuesday
  7. He will pick me up at six this morning
  8. I will go to Bali with my parents next month
  9. The nurse will be back in 3 hours
  10. My friends will visit my house this afternoon

Past

  1. I bought this car two years ago
  2. My mom taught me physics yesterday
  3. He brought his new magazines to my house last night
  4. My teacher gave me many homework last week
  5. I ate dinner with her 2 days ago
  6. My parents and I went to Paris last year
  7. He was a farmer 5 years ago
  8. I knew her for the first time when I was in junior high school
  9. My Mom was really angry to me yesterday
  10. My sister cleaned up my room a week ago

Jumat, 25 November 2011

Membuat Puisi

Menabung

Aku punya sebuah celengan
Terbuat dari tanah liat
Berbentuk seekor naga
Dengan ekor yang panjang

Dari hari ke hari
Celenganku selalu kuisi
Dari uang pemberian ibu
Sebagian kusimpan di celenganku

Kuingin kelak
Dapat membeli buku cerita
Dari uangku sendiri
Hasil menabung di celenganku

Satu tahun sudah berlalu
Tidak terasa aku mengisinya
Celenganku penuhlah sudah
Kupecah dan kuhitung jumlahnya

Betapa riang hatiku
Jumlah celenganku cukup besar
Kubelikan empat buah buku cerita
Dan alat-alat kuliah

Jumat, 21 Oktober 2011

Tulisan Resensi

Resensi Film The Karate Kids




Sinopsis

Dre Parker (Jaden Smith) adalah seorang anak berumur 12 tahun yang tinggal di Detroit. Suatu hari ibunya, Sherry (Taraji Henson), dipindahkan ke Cina, sehingga Dre harus mengikutinya pindah ke Cina. Meski pada awalnya membenci negara tersebut dan ingin segera kembali ke Amerika, Dre mulai sedikit berubah ketika berkenalan dengan seorang gadis yang bernama Mei Ying (Wenwen Han). Keakraban keduanya membuat Cheng (Zhenwei Wang), teman Mei, tidak terima. Dengan menggunakan ilmu kungfu yang dimilikinya, dengan mudah ia mengalahkan Dre.

Dre terus dikerjai oleh Cheng hingga suatu ketika Mr Han (Jackie Chan), yang bekerja sebagai petugas pemelihara kebersihan di apartemen tempat Dre dan ibunya tinggal, menolongnya. Mengetahui bahwa Mr Han menguasai kung fu, Dre pun meminta Mr Han untuk mengajarkan kung fu kepadanya. Meski pada akhirnya menolak, pada akhirnya Mr Han mau melakukannya, dengan syarat, Dre mengikuti pertandingan kung fu tingkat nasional yang akan diselenggarakan beberapa bulan kemudian, melawan Cheng dan kawan-kawannya.

Resensiku

The Karate Kid adalah remake dari film lawas dengan judul yang sama yang dibuat pada tahun 1984 silam. Dan syukurlah, tidak seperti kebanyakan film remake yang jadinya justru lebih parah, yang satu ini boleh dikata LUAR BIASA!

Dari sisi plot cerita, meski ada sedikit perbedaan latar belakang, namun secara garis besar sama. Cara Mr Han mengajarkan kung fu kepada Dre dengan menggunakan gerakan umum yang bisa dilakukan sehari-hari juga mirip dengan cara Mr. Miyagi 26 tahun lalu. Dan sudah jelas, adanya turnamen di sesi akhir film juga sama dengan versi aslinya. Yang harus diacungi jempol adalah bagaimana sang sutradara, Harald Zwart, berhasil menampilkan keindahan negeri Cina TANPA harus berkutat pada tembok Cina. Juga pemilihan karakter Mei Ying yang, meski tidak cantik, namun mengentalkan nuansa negeri Cina dalam The Karate Kid.

Dari sisi pemain, Will Smith dan Jada Pinkett Smith sudah jelas bangga melahirkan Jaden Smith. Dengan wajah dan kelakuan yang Will Smith banget, Jaden jelas menunjukkan bakat alaminya sebagai aktor. Bahkan untuk bermain di film ini, ia tidak sungkan untuk belajar kung fu terlebih dahulu selama berbulan-bulan dan melakoni sendiri SEMUA adegan di film tersebut tanpa menggunakan pemeran pengganti. Untuk Jackie Chan rasanya tidak perlu diragukan lagi. Setelah beberapa film terakhirnya yang kualitasnya agak di bawah rata-rata, akhirnya si Drunken Master ini bisa menunjukkan lagi kebolehannya. Peran Taraji Henson sebagai ibu Dre juga tidak boleh dipandang sebelah mata. Meski tidak terlalu sering eksis, namun si nominator Oscar ini mampu membuat film The Karate Kid lebih hidup.

Secara keseluruhan, hanya satu yang bisa sayakatakan — TONTON THE KARATE KID!


Tugas resensi

Resensi buku To Bee or Not To Bee


SINOPSIS

To Bee or Not To Bee, karangan John Penberthy, menceritakan tentang perjalanan spiritial seekor lebah bernama Buzz dalam pencariannya akan Tuhan. Buzz yang jenuh dengan rutinitas kegiatan sehari-hari — mengumpulkan madu, memperbaiki dan melindungi sarang — mulai mempertanyakan arti kehidupan yang ia jalani dan eksistensi serta pengaruh Tuhan terhadap dirinya. Dalam pencariannya, ia kemudian berkenalan dengan Bert, seekor lebah tua yang bijak. Meskipun tidak secara gamblang, Bert banyak Buzz dalam menemukan jawaban atas segala pertanyaan spiritual yang ada di pikiran Buzz. Hingga pada akhirnya, Buzz mampu memahami dengan jernih apa arti kehidupan dan keberadaan Tuhan yang selama ini ia cari.


Resensiku

Memang pantas bahwa buku ini telah diterjemahkan dalam 13 bahasa. Isinya benar-benar dalam dan menyentuh. Penberthy dengan jeniusnya mampu ‘menterjemahkan’ kehidupan dan keinginan seorang individu manusia ke dalam kehidupan seekor lebah dan koloninya, membuat kita merasa mereka tidak ada bedanya dengan kita. Apalagi ditambah dengan ilustrasi menawan dari Laurie Barrows yang mampu menambah pendalaman tentang isi buku.

Banyak kalimat-kalimat filosofis yang saya rasa dapat membuat siapa saja yang membacanya meluangkan waktu sejenak untuk merenung dan memahami artinya.

Adalah sempurna untuk berpikir bahwa kehidupan itu tidak sempurna.

Pikiran adalah pelayan yang hebat, tapi merupakan majikan yang payah.

Kebahagiaan tidak dapat dikejar, melainkan harus mengikuti.

Kehidupan adalah sebuah perjalanan dari aku menjadi kita.

Pada awalnya, saya mengira buku ini adalah tentang orang ‘kaya’ yang sudah bosan menumpuk kekayaan dan berharap mencari kedamaian spiritual. Ternyata saya salah. Buku ini justru mengenai orang ‘biasa’ yang jenuh bekerja siang malam untuk mencari nafkah dan menjalani hidupnya, yang kemudian mencoba mencari jawaban dengan melakukan pemikiran dan perjalanan spiritual. Dan pada akhirnya, perlu disadari bahwa keadaan kita saat ini dan apa yang kita lakukan saat ini, seberapa pun membosankannya, adalah sebuah karunia besar dari Tuhan yang patut kita syukuri.

Sabtu, 01 Oktober 2011

tugas softskill

Cerita Riwayat Hidup Saya

Nama saya Fredy Wijaya, saya adalah anak dari Sukma Wijaya dan Yustiawati . Saya adalah anak pertama dari 2 bersaudara. Saya lahir pada tanggal 27 September 1991. Saya lahir di jakarta di Rumah Sakit Immanuel. Saya mempunyai adik perempuan yang bernama Sri Wulan Dari. Saya sekolah dasar di SDN Babelan Kota 01 pada saat itu saya berumur 6 tahun. Saya pada saat sekolah dasar selama 6 tahun. Dan pada saat saya berumur 12 tahun saya melanjutkan sekolah di SMP Mutiara 17 Agustus di daerah bekasi, yaitu Wisma Asri dan saya sekolah selama 3 tahun. Setelah saya lulus SMP saya melanjutkan sekolah ke SMA ANANDA pada saat umur 15 tahun. Dan saya lulus SMA selama 3 tahun. Setelah lulus dr SMA ananda saya pun melanjutkan sekolah saya ke Universitas Gunadarma pada saat umur saya 18 tahun. Saya mengambil jurusan Akuntansi karena pada saat SMA saya mengambil jurusan IPS. Pada saat tingkat 1 saya mendapat kelas 1 EB 18 dan saya mempunyai teman yang baik, dan pada saat tingkat 2 saya mendapatkan banyak teman baru yang sama baik nya karena pada saat pergantian dari tingkat 1 ke tingkat 2 kelas nya di pindah-pindah lagi, tapi sekarang kelas nya dan teman-teman nya sudah tetap. Saya pun sekarang sudah tingkat 3, kelas saya sekarang 3 EB 18. Tidak terasa saya sudah menjalani perkuliahan selama 2 tahun lebih. Saya paling suka tidur dan makan, bisa di bilang kalau itu hoby saya. Saya pun paling suka bermain karena saya paling suka kebebasan. Saya orang nya paling mudah bosan, saya pun paling suka bercanda dengan teman-teman karena karena saya orang nya humoris. Tapi saya selalu jadi bahan ledekan karen kebodohan saya sendiri. Saya paling rajin kuliah tapi paling susah juga bangun nya, bahkan hampir setiap hari saya datang terlambat. Saya rasa cukup saya mendeskripsikan diri saya sendiri. Sekian dan terima kasih.

Nama : Fredy Wijaya

Kelas : 3 EB 18

Npm : 20209854

Jumat, 30 September 2011

Penalaran Deduktif dan Induktif

Penalaran deduktif dan Induktif

Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (pengamatan empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi – proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut menalar.

Dalam penalaran, proposisi yang dijadikan dasar penyimpulan disebut dengan premis (antesedens) dan hasil kesimpulannya disebut dengan konklusi (consequence).

Hubungan antara premis dan konklusi disebut konsekuensi.


Metode dalam menalar

Ada dua jenis metode dalam menalar yaitu induktif dan deduktif.

Metode induktif

Metode berpikir induktif adalah metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari hal-hal khusus ke umum.

Hukum yang disimpulkan difenomena yang diselidiki berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diteliti.

Generalisasi adalah bentuk dari metode berpikir induktif.

Metode deduktif

Metode berpikir deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus.

Contoh: Masyarakat Indonesia konsumtif (umum) dikarenakan adanya perubahan arti sebuah kesuksesan (khusus) dan kegiatan imitasi (khusus) dari media-media hiburan yang menampilkan gaya hidup konsumtif sebagai prestasi sosial dan penanda status sosial.

Konsep dan simbol dalam penalaran

Penalaran juga merupakan aktivitas pikiran yang abstrak, untuk mewujudkannya diperlukan simbol. Simbol atau lambang yang digunakan dalam penalaran berbentuk bahasa, sehingga wujud penalaran akan akan berupa argumen.

Kesimpulannya adalah pernyataan atau konsep adalah abstrak dengan simbol berupa kata, sedangkan untuk proposisi simbol yang digunakan adalah kalimat (kalimat berita) dan penalaran menggunakan simbol berupa argumen. Argumenlah yang dapat menentukan kebenaran konklusi dari premis.

Berdasarkan paparan di atas jelas bahwa tiga bentuk pemikiran manusia adalah aktivitas berpikir yang saling berkait. Tidak ada ada proposisi tanpa pengertian dan tidak akan ada penalaran tanpa proposisi. Bersama – sama dengan terbentuknya pengertian perluasannya akan terbentuk pula proposisi dan dari proposisi akan digunakan sebagai premis bagi penalaran. Atau dapat juga dikatakan untuk menalar dibutuhkan proposisi sedangkan proposisi merupakan hasil dari rangkaian pengertian.


Syarat-syarat kebenaran dalam penalaran

Jika seseorang melakukan penalaran, maksudnya tentu adalah untuk menemukan kebenaran. Kebenaran dapat dicapai jika syarat – syarat dalam menalar dapat dipenuhi.

  • Suatu penalaran bertolak dari pengetahuan yang sudah dimiliki seseorang akan sesuatu yang memang benar atau sesuatu yang memang salah.
  • Dalam penalaran, pengetahuan yang dijadikan dasar konklusi adalah premis. Jadi semua premis harus benar. Benar di sini harus meliputi sesuatu yang benar secara formal maupun material. Formal berarti penalaran memiliki bentuk yang tepat, diturunkan dari aturan – aturan berpikir yang tepat sedangkan material berarti isi atau bahan yang dijadikan sebagai premis tepat.

Daftar Pustaka : id.wikipedia.org/wiki/penalaran





Induktif dan Deduktif

Bernalar adalah suatu proses berpkir yang menyangkut cara mengambil/menarik suatu kesimpulan sebagai suatu pengetahuan menurut suatu alur atau kerangka berpikir tertentu.

Ada dua macam penalaran ilmiah. Pertama, penalaran induktif. Kedua, penalaran deduktif. Dua macam penalaran tersebut menunjuk pada dua cara menarik kesimpulan.

Penalaran induktif adalah proses penarikan kesimpulan yang umum (berlaku untuk semua/banyak) atas dasar pengetahuan tentang kasus-kasus individual (khusus). Penalaran induktif berkaitan erat dengan pengamatan inderawi (observasi) atas kasus-kasus sejenis lalu disusunlah pernyataan-pernyataan yang sejenis pula sebagai dasar untuk menarik kesimpulan yang berlaku umum. Misalnya observasi terhadap 10 batang logam yang dipanasi berturut-turut dengan hasil “sama” yakni memuai. Pengamatan itu secara formal dapat disusun sebagai suatu bentuk penalaran formal sebagai berikut:

“Logam 1 dipanasi dan memuai.

Logam 2 dipanasi dan memuai.

Logam 3 …

Logam 10 dipanasi dan memuai.

Jadi, semua logam dipanasi dan memuai.”

Skema Induksi pengetahuan yang lebih umum

Kenyataan

Pengetahuan yang lebih konkrit dan khusus

Dari contoh di atas terlihat bahwa kesimpulan dalam penalaran induktif merupakan generalisasi sehingga kesimpulan itu pasti lebih luas dari premis atau titik pangkal pemikiran. Dengan demikian selalu ada bahaya bahwa orang menarik kesimpulan umum dari alasan yang tidak mencukupi, atau menganggap sudah pasti sesuatu yang belum pasti. Generalisasi tergesa-gesa dapat menjerumuskan kita sehingga kita menarik kesimpulan umum tentang sesuatu yang sebenarnya tidak berlaku umum. Untuk itu perlu dipelajari secara ilmiah syarat-syarat yang harus dipenuhi agar dari jumlah kejadian yang kecil atau sedikit – sebagai sample kita dapat menarik kesimpulan yang berlaku umum tanpa melanggar kebenaran.

Penalaran induktif bertitik tolak dari kasus-kasus individual dan menarik kesimpulan umum. Kesimpulan dalam penalaran induktif tersebut merupakan sintesis atau penggabungan dari apa yang disebut sebagai titik pangkal pemikiran/premis, maka penalaran induktif disebut juga penalaran sintesis. Karena itu pula penalaran induktuf tidak bersifat sahih atau tidak sahih melainkan apakah kesimpulan dari suatu penalaran induktif lebih probabel dibandingkan dengan yang lain. Kalau begitu benarnya kesimpulan dalam penalaran induktif bergantung pada sample yang dijadikan alasan. Kalau alasan (premis) mencukupi maka kesimpulan benar (bukan pasti benar); sedangkan jika alasan (premis) tidak mencukupi maka kesimpulannya mungkin benar.

Dalam penalaran deduktif, penarikan kesimpulan bertitik tolak dari penyataan-pernyataan yang bersifat umum, kita menarik kesimpulan yang bersifat khusus. Penarikan kesimpulan secara deduktif memakai pola berpikir yang disebut silogisme. Silogisme adalah argumentasi yang terdiri dari tiga penyataan. Dalam silogisme itu, dari dua penyataan yang sudah diketahui (premis), kita turunkan pernyataan yang ketiga (kesimpulan).

Misalnya:

“Semua manusia akan mati.

Socrates adalah malaikat.

Jadi, Socrates akan mati.”

Pengetahuan yang telah umum

Deduksi

Kenyataan

Pengetahuan yang konkrit/khusus

Kunci untuk mengerti argumen di atas adalah istilah “manusia” pada pernyataan pertama dan pernyataan kedua. Artinya kalau diketahu bahwa “semua manusia akan mati” dan “Socrates adalah manusia” maka konsekuensi logisnya adalah “Socrates akan mati”. Kesimpulan bahwa “Socrates akan mati” merupakan hasil analisa dari dua pernyataan alasan (“ semua manusia akan mati”). Maka kesimpulan dalam penalaran deduktif bersifat analistis – tautologis sebab kesimpulan itu sudah termuat dalam titik pangkal pemikiran. Di sinilah penalaran deduktif bersifat sahih (kalau kesimpulannya diturunkan secara logis dari premis) atau tidak sahih (kalau kesimpulannya tidak diturunkan secara logis dari premis). Kesimpulan penalaran deduktif pasti 100% kalau argumentasi benar dari segi logika formal.

Misalnya:

“1 + 1”. ‘1 + 1” adalah premis (titik pangkal, alasan, atau data yang diketahui). “2” adalah kesimpulan yang pasti 100% sebab diturunkan secar alogis dari “1+1”. Kesimpulan itu (“2”) secara implisit sudah ada pada premis maka kesimpulan (“2”) tidak lebih luas dari premis itu. Kesimpulan “2” itu adalah hasil analisis atas premis “1+1”.

Manakah unsur-unsur penalaran deduktif?

Unsur-unsur penalaran deduktif dapat dikategorikan berdasarkan dua aspek. Pertama, aspek kegiatan mental. Kedua, aspek ekspresi verbal.

Unsur-unsur penalaran deduktif yang merupakan aktivitas akal budi meliputi pengertian/konsep, putusan, dan penyimpulan. Ketiga unsur tersebut terungkap secara verbal dalam bentuk kata/kelompok kata (term), pernyataan/kalimat berita (proporsial), dan rangkaian logis tiga pernyataan (silogisme).

Tabel

Induksi Deduksi
Proses pemikiran yang di dalamnya akal kita bertolak dari pengetahuan tentang beberapa kejadian/peristiwa/hal yang lebih konkret atau “khusus” lalu menyimpulkan hal yang lebih “umum”. Proses pemikiran yang di dalamnya akal kita bertolak dari pengetahuan yang lebih “umum” untuk menyimpulkan hal yang lebih “khusus”.
Kesimpulan dalam penalaran induktif bersifat generalisasi, sintesis karena itu tidak menjamin kepastian mutlak. Kesimpulan dalam penalaran deduktif bersifat analitis karena itu pasti seratus persen kalau argumentasinya sahih dari sudut logika formal.
Penalaran induktif tidak bersifat sahih/tidak sahih melainkan apakah satu penalaran induktif lebih probabel (tergantung sampel yang dijadikan alasan penyimpulan) dari yang lain. Tinggi rendahnya kadar kebolehjadian dalam kesimpulan bergantung pada alasan. Kalau alasan cukup, kesimpulan benar, kalau alasan tidak cukup kesimpulan mungkin benar. Penalaran deduktif bersifat sahih kalau kesimpulan relevan pada alasan/premis atau tidak sahih kalau kesimpulan tidak relevan pada proses.
Penalarn induktif tidak bisa siap dipakai untuk membenarkan induksi. Penalaran deduktif adalah dasar untuk membangun dan menilai prinsip-prinsip
ilmu pengetahuan.


Jumat, 01 April 2011

Artikel Budaya

Memasuki musim kemarau Agustus 2009 aksi pembakaran hutan dan lahan di Kalimantan Tengah (Kalteng) kembali terjadi. Akibatnya sekitar 2 juta jiwa penduduk provinsi ini kembali didera kabut asap bercampur partikel debu. Polutan yang berhamburan ke udara kian pekat dan menyesakan dada.

Perangkat Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) milik Badan Lingkungan Hidup (BLH) Pemprov Kalteng yang ditempatkan di sekitar Bundaran Besar menunjukkan level "Sangat Berbahaya". Ironisnya, hingga saat ini pihak terkait di daerah ini baru berhasil menangkap beberapa gelintir 'orang kecil' yang diduga pelaku pembakaran lahan. Sementara para tauke tanah yang sebagian pejabat malah tak tersentuh.


manusiautan.files.wordpress.com/2008/02/kebakaran-hutan.jpg

Informasi yang dihimpun Betang.COM kebakaran lahan tahun ini hampir merata di 13 kabupaten dan 1 kota di Kalteng. Kota Palangka Raya tak hanya dikepung asap pembakaran lahan dari wilayahnya, tapi juga asap kiriman dari Kabupaten Katingan dan Kabupaten Pulang Pisau. Kedua kabupaten baru ini hanya berjarak sekitar 90 km dari Ibukota Kalteng tersebut. Di wilayah Kabupaten Katingan kebakaran lahan terlihat di kiri dan kanan jalan negara menuju Palangka Raya. Pemkab Katingan sebenarnya telah berupaya melakukan pemadaman, tapi karena luasnya wilayah yang terbakar yang dapat mereka lakukan hanya memadamkan api yang berada di tepi jalan.

"Beberapa warga mengalami kerugian ratusan juta karena kebun karetnya turut terbakar," kata Amang Ihul, warga Kasongan.

Sementara di Kota Palangka Raya yang terdiri dari lima kecamatan, aparat berwenang seakan tak berdaya mengantisipasi meluasnya kebakaran lahan. Di Kecamatan Sabangau yang terletak sekitar 15 km di selatan kota, api malah membara di sekitar pemukiman penduduk. Struktur tanah di daerah ini yang sebagian berupa gambut membuat api semakin sulit dipadamkan.

Terbatasnya dana dan peralatan yang dimiliki Pemerintah Kota (Pemko) Palangka Raya membuat aparat tidak dapat berbuat banyak.

Wakil Walikota Palangka Raya, Maryono mengatakan hingga saat ini terdapat sekitar 268 hektar lahan yang terbakar. Untuk mengantisipasi meningkatnya penyakit Ispa (infeksi saluran pernafasan atas) pihaknya telah membagikan secara gratis sebanyak 60 ribu masker dari 100 ribu masker yang direncanakan.

"Puskesmas-puskesmas di Palangka Raya telah siap menangani pasien Ispa," kata Maryono kepada wartawan di Palangka Raya, Selasa ( 1/9) pagi.

Semakin pekatnya kabut asap yang menyelimuti kota Palangka Raya yang dapat mengancam kesehatan, memaksa Walikota Palangka Raya, HM Riban Satia kembali mengevaluasi kebijakan pemberlakuan jam sekolah di daerah ini. Setelah asap mulai membahayakan, sebelumnya HM Riban Satia menginstruksikan agar jam sekolah masuk pukul 7.30 WIB, menyusul kian pekatnya asap jam masuk sekolah kembali diundur menjadi pukul 8.30 WIB.

Instruksi Walikota tersebut merujuk pada rekomendasi Dinas Kesehatan setempat pada rapat yang dihadiri Muspida dan kepala SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) pada 28 Agustus 2009 lalu.

"Pemberlakuan ketentuan ini akan terus dievaluasi sesuai dengan keadaan," katanya.

Pemprov Kalteng tak tinggal diam, sejak 16 Agustus 2009 telah berupaya membuat hujan buatan meski hasilnya tak begitu optimal. Pembuatan hujan buatan ditangani Tim Modifikasi Cuaca (TMC). Selama ini TMC telah terbang 16 kali sambil menggelontorkan garam sebanyak 11.220 ton di sejumlah titik api di wilayah ini. Antara lain Lamandau, Seruyan dan Katingan. Sayangnya pada 25 Agustus 2009 kegiatan TMC terhenti karena pesawat Cassa jenis 212-200 yang dipergunakan membuat hujan mengalami kerusakan teknis. Padahal tugas TMC berakhir hingga 4 September 2009.

"Tapi Gubernur Kalteng minta diperpanjang hingga menjelang lebaran," kata Korlap TMC Kalteng, Tri Handoko Seto, belum lama ini.

Menurut Tri Handoko Seto, pesawat serupa yang bertugas menyemai hujan buatan di wilayah Kalbar akan ditarik ke Kalteng.

Pesawat Cassa 212-200, katanya, dalam sehari dapat menabur garam sekitar 800 kilogram dan dapat membuat hujan turun mencapai ratusan meter kubik.

Hingga Jum’at (11/9) petang, kabut asap tidak ada tanda-tanda akan sirna. Kepekatannya tidak hanya pagi hari, tapi juga siang dan sore hari. Tak terbilang sudah berapa puluh meter pita police line di pasang polisi di lokasi kebakaran lahan di daerah ini. Toh, api juga tak kunjung padam, satu titik dipadamkan, di tempat lain api kian berkobar hebat. Wilayah Kalteng seakan menjadi 'neraka' baru bagi warganya.